Kamis, 19 Maret 2015

Untuk anak cucu para pejuang




Untuk anak cucu para pejuang
Bulan Maret Tahun 1992, Salahuddin, Seorang anak kecil kelas 5 SD maju kedepan para hadirin dan juri. Awalnya Ia merasa grogi dan takut, namun dzikir dan doa yang diajarkan sang ayah yang senantiasa dibacanya dalam hati kemudian telah menguatkannya dan memaksanya untuk maju dan membacakan puisi dengan penuh khidmat didepan para undangan yang hadir.
“Le, meskipun kamu masih kecil, tapi sekarang kamu bisa memberikan nasehat lewat puisi, meskipun puisi itu ditulis oleh orang lain. Namun bapak yakin, bahwa semangat perjuangan dalam puisi yang akan engkau bacakan itu, akan berpindah kepada siapapun yang mendengarnya. Jadikan puisi itu menjadi nasehat bagi dirimu dan seluruh orang yang mendengarnya. Dan yang paling penting le, ambil hikmahnya, jadikan semangat pejuang dari puisi yang akan engkau bacakan itu menjadi semangat untukmu, untuk meneruskan perjuangan beliau (Pangeran Diponegoro) dalam membela negara dan agama ini”. Kata sang ayah.
Keesokan pagi harinya, Telah berkumpul banyak siswa peserta lomba puisi beserta para guru dan juri di Aula salah satu SD di sebuah kota kecil diJawa Timur. Terdengar sebuah nama siswa dan sekolah asal disebut pertanda salahuddin kecil* dipanggil dan dipersilahkan untuk maju menuju keatas panggung. Salahuddin kecil perlahan bangkit dari duduknya, ia kemudian berjalan dengan percaya diri menaiki panggung, dan diraihnya sebuah mic yang ada didepannya. Diapun memberikan penghormatan kepada para hadirin dan juri, Kemudian mulailah dibukanya sebuah map kecil yang ada ditangannya yang didalamnya telah tertempel dengan rapi dua lembar puisi yang harus dibacanya dihadapan para hadirin. Dari bibirnya yang mungil, Iapun mulai membaca judul, dan bait demi bait dengan penuh penghayatan.
Diponegoro
Karya Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang

Para pendengar mendengarkan dengan seksama, bahkan beberapa merasa merinding merasakan isi dari bait-bait semangat sang pejuang yang dibacakan oleh Salahuddin kecil. Namun sayang suasana itu hanya berlangsung beberapa jam. Setelah itu selesailah acara lomba puisi tersebut, dengan diumumkannya tiga pembaca puisi terbaik yang berhak mendapatkan piala bergilir.
Api semangat acara memang telah berakhir, namun Alloh maha tau, Ia tak akan meninggalkan begitu saja semangat jihad para pejuang cilik yang terilhami oleh sang kakek buyut, yang berupa kejadian yang sanggup membakar semangat jihad membela Islam dan tanah air 185 tahun yang lalu, yang dikobarkan dengan pekikan takbir dan diringi kibaran panji tauhid. dan atas ijin dari Sang Maha Kuasa kemudian dipadamkan secara zahir dalam sebuah perundingan licik, yang diakali oleh penjajah belanda dan penguasa dzalim saat itu.
Namun, 23 tahun kemudian, setelah pembacaan puisi indah itu...
Api semangat perjuangan itu telah kembali, api perjuangan itu telah membakar semangat anak cucu Diponegoro, untuk menegakkan lagi syariat Alloh dibumi pertiwi ini. Api semangat itu telah membakar jiwa-jiwa yang lemah menjadi pejuang yang tangguh dibawah panji-panji Islam yang bertuliskan kalimat Tauhid Lhaaillaa Haillaloh, Muhammadarrosululloh.
Panji kemenangan, panji kebenaran, panji ketauhidan, Maka jangan heran jika rombongan laskar Diponegoro saat itu sangat mudah dikenali, mana laskar yang membela perjuangan pangeran diponegoro, mana yang bukan, karena panji-panji kalimat tauhid itulah yang menyatukan laskar-laskar pendukung diponegoro. Tapi sayang, sejarah itu seakan dibenamkan dalam-dalam oleh para penjajah dan antek-anteknya.
Dengan dibantu oleh Kyai Mojo (Surakarta), Sentot Alibasya Prawirodirjo, Pangeran Suryo Mataram, Pangeran Pak-pak (Serang), Pangeran Diponegoro berhasil memberikan perlawanan yang hebat kepada Belanda.
Namun, Tahukah kita semua, bahwa Kemarahan Pangeran Diponegoro disebabkan oleh diinjak-injaknya syariat Islam dan digantikan dengan hukum belanda yang saat itu dibantu dengan sang patih danuredjo. Sedang raja hamengkubuwono V yang masih berumur tiga tahun, dimana Ia sengaja diangkat hanya sebagai simbol.
Tahukah kita semua, bahwa Dewan perwalian keraton dibentuk hanya sebagai formalitas sebagai pelengkap supaya pihak diluar keraton tidak mnganggap keputusan keraton adalah keputusan patih danuredjo dan pemerintah belanda.
Dan Tahukah kita semua, bahwa Penarikan pajak yang semakin menggila, sampai sampai setiap ikat panen harus dibayarkan pajak sebesar 50% untuk diberikan kepada pemerintahan belanda dan keraton.
Tidak hanya itu, setiap yang lewat jembatanpun harus membayar pajak jembatan, bahkan seorang wanita hamil dengan seorang anak kecil harus meregang nyawa ditengah derasnya arus sungai hanya karena tidak diperbolehkan melewati jembatan, karena tidak mampu membayar pajak jembatan yang dibebankan kerajaan atas perintah belanda.
Tahukah kita semua, bahwa jika ribuan ulama dan santri dibunuh dengan keji, gerak mereka yang masih tersisa dibatasi, segala fasilitas dicabut, hingga mereka beralih ke pedalaman karena besarnya pajak yg menyebabkan mereka tidak mampu untuk membayarnya.
Tahukah kita semua, jika pesta, arak, judi dan wanita penghibur menjadi kebiasaan dan budaya para pembesar keraton dan belanda saat itu, meskipun mereka sangat tau bahwa itu mereka lakukan diatas tangisan penderitaan rakyat yang terbebani dengan pajak dan peraturan yang menyakitkan.
Pangeran Diponegoro adalah penentang segala kemaksiyatan tersebut, beliau seorang ulama sekaligus pemimpin ummat yang sangat dekat dengan kepentingan rakyat.
Seorang pemimpin dengan gelar raden Mas Ontowiryo. Ia juga bergelar “Sultan Abdul Hamid Herucokro Amirulmukminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawi”.
Namun, Pada Bulan ini, bulan maret, 185 tahun yang lalu, tepatnya 28 Maret 1830, ulama sekaligus pejuang yang berani tersebut ditangkap dengan kelicikan dan kebohongan yang telah direkayasa oleh para kafir penjajah belanda bersama antek-anteknya. Pejuang agama sekaligus Kakek kita tersebut dibuang, diasingkan hingga beliau wafat, yang insyaAlloh Syahid dijalanNya.
Itu semua terjadi pada 185 tahun yang lalu.
Namun pertanyaan yang kemudian muncul, “adakah penerus perjuangan sang ulama dan pejuang tersebut? Adakah cucu-dan cicit dari para pejuang tersebut, yang kemudian dengan segala kesholehan dan keberaniannya, melawan para penjajah dalam bentuk apapun, yang saat ini sedang merongrong kedaulatan dan keadilan diantara ummat muslim terbesar didunia ini?” adakah anak cucu para pejuang yang dengan pengorbanan jiwa raga serta harta, kemudian menggunakan segala daya dan upaya, apakah itu intelektualitas, kedudukan, jabatan, waktu serta pemikiran, mau menjadikan itu semua untuk mengusir penjajah, yang selama ini menghancurkan tatanan ummat dinegara dan dunia ini, dengan ideologi yang rusak, ideologi yang sangatlah tidak patut untuk disandingkan dengan ideologi yang secara suci diturunkan olah Tuhannya Manusia, Rajanya manusia, sesembahan manusia, ideologi suci, yang bernama Islam.
Rasanya kita tidak perlu menunggu lagi, jalan syahid telah didepan kita, perjuangan masihlah panjang, perjuangan yang telah disediakan oleh Alloh SWT, kepada kita Hambanya, kepada kita para anak dan cucu para ulama dan pejuang yang telah bersusah payah menegakkan syariat Alloh dimuka bumi ini.
Marilah para anak cucu para pejuang, kita buat para pejuang pendahulu kita tersenyum, kita buat para ulama tersenyum, kita buat para sahabat tersenyum, kita buat Rosululloh SAW tersenyum. Karena perjuangan dan pengorbanan yang telah kita lakukan, dalam rangka menegakkan syariat Alloh SWT dimuka bumi ini. Kita sebarkan kedamaian dan keindahan Islam, kita ganti syariat Syetan yang selama ini bergentayangan diantara kita. Dengan sesuatu yang suci, yaitu Islam.
Jangan menunggu lagi, karena para pejuang itu adalah Kita, Alloohu Akbar..


Redi Bintarto
19 Maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar