Untuk anak cucu para
pejuang
Bulan Maret Tahun
1992, Salahuddin, Seorang anak kecil kelas 5 SD maju kedepan para hadirin dan
juri. Awalnya Ia merasa grogi dan takut, namun dzikir dan doa yang diajarkan
sang ayah yang senantiasa dibacanya dalam hati kemudian telah menguatkannya dan
memaksanya untuk maju dan membacakan puisi dengan penuh khidmat didepan para
undangan yang hadir.
“Le, meskipun
kamu masih kecil, tapi sekarang kamu bisa memberikan nasehat lewat puisi,
meskipun puisi itu ditulis oleh orang lain. Namun bapak yakin, bahwa semangat perjuangan
dalam puisi yang akan engkau bacakan itu, akan berpindah kepada siapapun yang
mendengarnya. Jadikan puisi itu menjadi nasehat bagi dirimu dan seluruh orang
yang mendengarnya. Dan yang paling penting le, ambil hikmahnya, jadikan semangat
pejuang dari puisi yang akan engkau bacakan itu menjadi semangat untukmu, untuk
meneruskan perjuangan beliau (Pangeran Diponegoro) dalam membela negara dan agama
ini”. Kata sang ayah.
Keesokan pagi
harinya, Telah berkumpul banyak siswa peserta lomba puisi beserta para guru dan
juri di Aula salah satu SD di sebuah kota kecil diJawa Timur. Terdengar sebuah
nama siswa dan sekolah asal disebut pertanda salahuddin kecil* dipanggil dan dipersilahkan
untuk maju menuju keatas panggung. Salahuddin kecil perlahan bangkit dari
duduknya, ia kemudian berjalan dengan percaya diri menaiki panggung, dan
diraihnya sebuah mic yang ada didepannya. Diapun memberikan penghormatan kepada
para hadirin dan juri, Kemudian mulailah dibukanya sebuah map kecil yang ada
ditangannya yang didalamnya telah tertempel dengan rapi dua lembar puisi yang
harus dibacanya dihadapan para hadirin. Dari bibirnya yang mungil, Iapun mulai
membaca judul, dan bait demi bait dengan penuh penghayatan.
Diponegoro
Karya Chairil Anwar
Di masa
pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
Para
pendengar mendengarkan dengan seksama, bahkan beberapa merasa merinding
merasakan isi dari bait-bait semangat sang pejuang yang dibacakan oleh
Salahuddin kecil. Namun sayang suasana itu hanya berlangsung beberapa jam. Setelah
itu selesailah acara lomba puisi tersebut, dengan diumumkannya tiga pembaca
puisi terbaik yang berhak mendapatkan piala bergilir.
Api semangat
acara memang telah berakhir, namun Alloh maha tau, Ia tak akan meninggalkan
begitu saja semangat jihad para pejuang cilik yang terilhami oleh sang kakek
buyut, yang berupa kejadian yang sanggup membakar semangat jihad membela Islam
dan tanah air 185 tahun yang lalu, yang dikobarkan dengan pekikan takbir dan
diringi kibaran panji tauhid. dan atas ijin dari Sang Maha Kuasa kemudian
dipadamkan secara zahir dalam sebuah perundingan licik, yang diakali oleh
penjajah belanda dan penguasa dzalim saat itu.
Namun, 23
tahun kemudian, setelah pembacaan puisi indah itu...
Api semangat
perjuangan itu telah kembali, api perjuangan itu telah membakar semangat anak
cucu Diponegoro, untuk menegakkan lagi syariat Alloh dibumi pertiwi ini. Api semangat
itu telah membakar jiwa-jiwa yang lemah menjadi pejuang yang tangguh dibawah
panji-panji Islam yang bertuliskan kalimat Tauhid Lhaaillaa Haillaloh,
Muhammadarrosululloh.
Panji
kemenangan, panji kebenaran, panji ketauhidan, Maka jangan heran jika rombongan
laskar Diponegoro saat itu sangat mudah dikenali, mana laskar yang membela
perjuangan pangeran diponegoro, mana yang bukan, karena panji-panji kalimat
tauhid itulah yang menyatukan laskar-laskar pendukung diponegoro. Tapi sayang,
sejarah itu seakan dibenamkan dalam-dalam oleh para penjajah dan
antek-anteknya.
Dengan dibantu oleh Kyai Mojo (Surakarta), Sentot
Alibasya Prawirodirjo, Pangeran Suryo Mataram, Pangeran Pak-pak (Serang),
Pangeran Diponegoro berhasil memberikan perlawanan yang hebat kepada Belanda.
Namun, Tahukah
kita semua, bahwa Kemarahan Pangeran Diponegoro disebabkan oleh
diinjak-injaknya syariat Islam dan digantikan dengan hukum belanda yang saat
itu dibantu dengan sang patih danuredjo. Sedang raja hamengkubuwono V yang
masih berumur tiga tahun, dimana Ia sengaja diangkat hanya sebagai simbol.
Tahukah kita
semua, bahwa Dewan perwalian keraton dibentuk hanya sebagai formalitas sebagai
pelengkap supaya pihak diluar keraton tidak mnganggap keputusan keraton adalah
keputusan patih danuredjo dan pemerintah belanda.
Dan Tahukah kita
semua, bahwa Penarikan pajak yang semakin menggila, sampai sampai setiap ikat
panen harus dibayarkan pajak sebesar 50% untuk diberikan kepada pemerintahan
belanda dan keraton.
Tidak hanya
itu, setiap yang lewat jembatanpun harus membayar pajak jembatan, bahkan
seorang wanita hamil dengan seorang anak kecil harus meregang nyawa ditengah
derasnya arus sungai hanya karena tidak diperbolehkan melewati jembatan, karena
tidak mampu membayar pajak jembatan yang dibebankan kerajaan atas perintah
belanda.
Tahukah kita
semua, bahwa jika ribuan ulama dan santri dibunuh dengan keji, gerak mereka yang
masih tersisa dibatasi, segala fasilitas dicabut, hingga mereka beralih ke
pedalaman karena besarnya pajak yg menyebabkan mereka tidak mampu untuk
membayarnya.
Tahukah kita
semua, jika pesta, arak, judi dan wanita penghibur menjadi kebiasaan dan budaya
para pembesar keraton dan belanda saat itu, meskipun mereka sangat tau bahwa itu
mereka lakukan diatas tangisan penderitaan rakyat yang terbebani dengan pajak
dan peraturan yang menyakitkan.
Pangeran
Diponegoro adalah penentang segala kemaksiyatan tersebut, beliau seorang ulama
sekaligus pemimpin ummat yang sangat dekat dengan kepentingan rakyat.
Seorang pemimpin
dengan gelar raden Mas Ontowiryo. Ia juga bergelar “Sultan Abdul
Hamid Herucokro Amirulmukminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawi”.
Namun, Pada
Bulan ini, bulan maret, 185 tahun yang lalu, tepatnya 28 Maret 1830, ulama
sekaligus pejuang yang berani tersebut ditangkap dengan kelicikan dan kebohongan
yang telah direkayasa oleh para kafir penjajah belanda bersama antek-anteknya. Pejuang
agama sekaligus Kakek kita tersebut dibuang, diasingkan hingga beliau wafat,
yang insyaAlloh Syahid dijalanNya.
Itu semua
terjadi pada 185 tahun yang lalu.
Namun
pertanyaan yang kemudian muncul, “adakah penerus perjuangan sang ulama dan
pejuang tersebut? Adakah cucu-dan cicit dari para pejuang tersebut, yang
kemudian dengan segala kesholehan dan keberaniannya, melawan para penjajah
dalam bentuk apapun, yang saat ini sedang merongrong kedaulatan dan keadilan
diantara ummat muslim terbesar didunia ini?” adakah anak cucu para pejuang yang
dengan pengorbanan jiwa raga serta harta, kemudian menggunakan segala daya dan
upaya, apakah itu intelektualitas, kedudukan, jabatan, waktu serta pemikiran,
mau menjadikan itu semua untuk mengusir penjajah, yang selama ini menghancurkan
tatanan ummat dinegara dan dunia ini, dengan ideologi yang rusak, ideologi yang
sangatlah tidak patut untuk disandingkan dengan ideologi yang secara suci
diturunkan olah Tuhannya Manusia, Rajanya manusia, sesembahan manusia, ideologi
suci, yang bernama Islam.
Rasanya kita
tidak perlu menunggu lagi, jalan syahid telah didepan kita, perjuangan masihlah
panjang, perjuangan yang telah disediakan oleh Alloh SWT, kepada kita Hambanya,
kepada kita para anak dan cucu para ulama dan pejuang yang telah bersusah payah
menegakkan syariat Alloh dimuka bumi ini.
Marilah para
anak cucu para pejuang, kita buat para pejuang pendahulu kita tersenyum, kita
buat para ulama tersenyum, kita buat para sahabat tersenyum, kita buat Rosululloh
SAW tersenyum. Karena perjuangan dan pengorbanan yang telah kita lakukan, dalam
rangka menegakkan syariat Alloh SWT dimuka bumi ini. Kita sebarkan kedamaian
dan keindahan Islam, kita ganti syariat Syetan yang selama ini bergentayangan
diantara kita. Dengan sesuatu yang suci, yaitu Islam.
Jangan
menunggu lagi, karena para pejuang itu adalah Kita, Alloohu Akbar..
Redi Bintarto
19 Maret 2015
